Error
  • The template for this display is not available. Please contact a Site administrator.

Destinasi Wisata Sejarah Bunker Kec. Bogor Selatan Kota Bogor

Judul Asli : Benteng Belanda di Kec. Bogor Selatan

Berawal dari laporan masyarakat, khususnya para pemerhati sejarah – budaya pada akhir 2008, yang menyatakan keprihatinannya atas bakal tergusurnya beberapa bangunan yang diduga peninggalan era kolonial di kawasan Lawanggintung Kecamatan Bogor Selatan. Pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bogor segera meresponnya dengan membentuk Tim Identifikasi Benda Cagar Budaya (BCB) pada bulan Maret 2009.

Melalui 10 hari proses penelitian, Tim Identifikasi BCB akhirnya mengukuhkan 12 obyek penelitian selaku BCB. Tim Identifikasi ini merupakan gabungan peneliti dari beberapa lembaga yang terkait dengan kepurbakalaan,di antaranya: Balai Arkeologi (Balar) Bandung, Balai Perlindungan Peninggalan Purbakala (BP3) Serang, dan Jurusan Arkeologi FIB UI Depok.

Adapun peneltinya berjumlah 17 orang, termasuk sejarawan senior Dr. Uka Tjandrasasmita yang ditunjuk selaku tim ahli. Selain itu, Tim Identifikasi juga diisi oleh beberapa nama yang sudah tidak diragukan lagi kredibilitasnya di bidang arkeologi, seperti Dr. Agus Aris Munandar (sekarang bergelar Profesor), Dr. Hasan Djafar, dan Lutfi Yondri, peneliti utama Balar Bandung.

Proses identifikasi berlangsung dari hari Sabtu (7/3/09) sampai dengan Jumat (13/3/09) dengan jalan mengumpulkan data di lapangan yang tempatnya sudah ditentukan terlebih dahulu oleh pihak Disbudpar Kota Bogor.

Dua hari berikutnya dilakukan pengolahan data serta membuat laporan penelitian. Pada hari terakhir (16/3/09) dilakukan pemaparan (expose) baik kepada Disbudpar maupun masyarakat pecinta sejarah serta media.

Menurut Tim Identifikasi, yang ditetapkan sebagai BCB adalah: Sembilan bangunan benteng peninggalan Belanda di Kecamatan Bogor Selatan, dua batu lumpang (dakon) yang ada di Gang Raden Saleh dan yang berada di kompleks pemakaman dekat masjid Al-Ihya, serta sebuah punden Gunung Batu di Kelurahan Pasir Mulya, Kecamatan Bogor Barat.

Waktu itu, Dr. Uka turut menjelaskan, semua obyek yang diteliti termasuk BCB, karena merupakan peninggalan budaya masa lalu dan telah berumur lebih dari 50 tahun. Hal ini tentu saja sesuai dengan UU No. 5 tahun 1992. Oleh karena itu Tim Identifikasi merekomendasikan segera diadakan upaya penyelamatan dan pelestarian terhadap BCB tersebut, sekaligus agar bisa dimanfaatkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan.

Sementara itu, pihak Disbudpar Kota Bogor akan segera menyurati si empunya lahan, agar BCB yang ada di tempatnya tidak dirubah, dirusak atau dipindahkan ke tempat lain. Selanjutnya Disbudpar juga akan mengeluarkan surat keputusan terkait ditetapkannya obyek-obyek yang telah diteliti sebagai BCB.

Mengenai dana yang telah dikeluarkan untuk membiayai proses identifikasi BCB ini, pihak Disbudpar menyebut sekitar Rp. 40 juta. Malah ke depan pihak Pemerintah Kota Bogor bakal memberikan kompensasi kepada siapa saja yang menemukan serta melaporkan barang-barang yang memiliki keterkaitan dengan kesejarahan Kota Bogor yang besaran jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan yang ada.

Bisa disebut, penelitian yang digelar oleh Disbudpar Kota Bogor ini, lebih difokuskan pada keberadaan bangunan benteng-benteng Belanda yang ada di tiga tempat terpisah di Kecamatan Bogor Selatan.

Empat bangunan ada di kawasan gedung Serbaguna Gumati Lawanggintung, satu benteng ada tepat di belakang gedung Gumati di lahan milik Jasman (49). Dua lagi ada di lahan milik Bank Mandiri. Ke-tujuh bangunan ini masuk ke wilayah Kelurahan Lawanggintung.

Sedangkan di sisi rel kereta jurusan Bogor – Sukabumi, tepatnya di belakang istana Batutulis, ditemukan dua benteng lagi. Dua bangunan ini secara administratif masuk ke wilayah Kelurahan Batutulis.

Dari Sembilan bangunan benteng yang diteliti, hanya tiga bangunan yang bisa dikategorikan masih utuh. Dua bangunan berada di lahan Bank Mandiri, serta satu lagi berada di lokasi Gumati Lawanggintung. Sedangkan sisanya sudah dalam keadaan rusak, malah ada yang hanya tinggal reruntuhannya saja.

Melihat bentuk bangunannya, benteng-benteng ini merupakan bangunan berbentuk bulat dan terkesan kokoh. Rangka bangunannya menggunakan besi beton 15 mm yang dianyam lumayan rapat. Dinding bangunan dan juga atapnya terbuat dari beton, dengan ketebalan sekitar 30 Cm. Garis tengah bangunannya 2,4 meter. Sementara tinggi bangunannya tidak serupa, ada yang sampai 1,8 meter tetapi ada juga yang hanya setinggi satu meter.

Di setiap benteng ada sebuah pintu (lawang) masuknya. Pintu benteng ini tidak begitu tinggi, hanya sekitar 70 – 80 Cm dari permukaan tanah. Hal penting lainnya dari bangunan ini, yaitu adanya lolongok atau jendela kecil. Lolongok ini berupa sebuah bolong persegi di dinding benteng yang ukurannya 25 X 80 Cm, posisinya kira-kira tiga per empat dari tinggi benteng. Ada benteng yang hanya memiliki satu lolongok, tetapi ada juga yang memiliki dua buah. Lolongok ini berfungsi untuk mengintai keadaan di sekelilingnya, serta bisa juga untuk tempat mengarahkan senjata ke pihak musuh.

Kebanyakan benteng dibuat di tempat yang tinggi atau di atas bukit. Posisinya juga selalu di tempat yang strategis. Dari dalam bangunan benteng-benteng ini, bisa terlihat keadaan di sekelilingnya, utamanya tempat-tempat penting, seperti keadaan Jalan Cipaku (sekarang Jalan Saleh Danasasmita); rel kereta api, baik dari arah stasiun Bogor maupun dari arah Sukabumi; dan stasiun Batutulis. Hal ini menunjukkan, bangunan ini mempunyai fungsi sebagai kubu pertahanan. Fakta lainnya yang lebih menguatkan kesimpulan di atas, yaitu ditemukannya potongan bayonet di dekat benteng yang ada di lahan Bank Mandiri.

Para peneliti menduga bangunan benteng ini dibuat sekitar tahun 1935 – 1942 oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menyongsong kedatangan bala tentara Dai Nippon yang akan menyerang ke Nusantara.

Sayangnya peninggalan heubeul ini tidak didukung oleh bukti tertulis, misalnya dokumen Belanda yang menyebutkan adanya pembangunan benteng-benteng ini. Juga, tidak ada keterangan lisan dari para sesepuh yang mengalami zaman PD II. Tim Identifikasi sempat bertanya ke kantor Legiun Veteran dan Museum Peta, tetapi tidak mendapatkan keterangan apapun yg berkait dengan keberadan benteng ini.

Sebenarnya, di wilayah Bogor, benteng Belanda tidak hanya ditemukan peninggalannya di Kecamatan Bogor Selatan saja, tetapi ada juga di daerah Pasir Angin dan Kampung Sinar Harapan di Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor. Bahkan, di benteng Pasir Angin sempat diceritakan terjadinya pertempuran hebat antara pihak Sekutu dan tentara Jepang yang akan menyeberangi sungai Cianten, yang mengakibatkan banyak tentara Jepang yang tewas. Sehingga para veteran tentara Jepang sampai perlu mendirikan monumen perang di sana.

Dalam tulisan ini, istilah benteng sengaja digunakan, dibandingkan dengan istilah bungker yang banyak dilansir oleh media lain. Hal ini karena bangunan peninggalan Belanda ini berada di tempat yang strategis, berfungsi untuk mengintai keadaan sekelilingnya, sekaligus untuk menyongsong dan menembak musuh. Berbeda dengan bungker yang biasanya bangunannya berada di dalam tanah untuk bersembunyi (menghindar) dari musuh.

Sumber : http://napaktilasbogor.blogspot.co.id/2013/01/benteng-belanda-di-kec-bogor-selatan.html