Sinetron Bisa Jadi Alat Agitasi

Jakarta (Pedia) Tidak sengaja seminggu yang lalu, saya cuti, sehingga sempat nonton TV saat jam 19an. Sambil cari-cari chanel, saya pun bertanya kepada anak lelaki saya yang kebetulan sedang duduk disamping saya, mengenai sinetron yang ratingnya lagi tinggi?

Anak saya pun menjawab dengan sepontan, “Sinetron …” yang menceritakan kehidupan anak-anak muda komunitas motor perkotaan. Tertariklah saya untuk mengamatinya. Hari pertama saya nonton dari jam 18.30 sampai jam 20.30 Menurut saya, alur adegannya sungguh memang enak untuk kita tidak beranjak dari tempat duduk kita.

Hari pertama, saya sudah dicengangkan oleh logika berfikir penyelesaian masalah, yang selalu didahului oleh perkelahian yang tidak berujung. Kalau ini sebuah film bioskop yang berdurasi 1 hingga 2 jam, secara psikologis masih dapat dimengerti dari logika sensor – yang dampaknya tidak seperti yang akan dihasilkan oleh sinetron yang setiap hari dapat dilihat oleh jutaan masyarakat kita. Jadi jangan salahkan pemuda kita, jika mereka pun mengambil pola pikir penyelesaian masalah dengan kekerasan.

Hari-hari berikutnya, saya dibuat lebih terperangah lagi, pesan yang diberikan oleh sinetron tersebut. Ada hubungan yang tidak logis mengenai percintaan, dimana seorang pria yang masih duduk di bangku SMA sempat berpacaran dengan Wanita Dewasa (Sudah lulus kuliah, sudah punya jabatan – hitung saja sendiri  berapa tahun jarak mereka), yang saat saya tonton, Wanita tersebut sudah menjadi istri orang.

Ini adalah pesan yang mungkin tidak kita sadari, agitasinya adalah kita disuruh melupakan Budi Pekerti yang seharusnya dikedepankan. Dimana letaknya? Ada adegan dimana sang Istri pengusaha yang juga wanita karir yang notabene Wanita yang saya sebut di atas tersebut, menemui mantan pacarnya yang masih duduk di bangku SMA. Budi Pekerti yang harusnya dikedepankan adalah, seorang mantan kekasih tidak diperkenankan untuk menemui mantan kekasihnya yang sudah berkeluarga. Tapi bungkusan cerita yang dibuat seolah, pria SMA ini diposisikan sebagai pria innocent. Sehingga hubungan pria wanita seperti alur cerita di atas, akan menggrogoti alam bawah sadar anak-anak muda kita, untuk berbuat hal yang sama, yang akhirnya diwajarkan oleh masyarakat kita secara umum.

Dampak yang paling dekat adalah, agitasi terhadap logika berfikir yang membuat pria-pria muda yang tampan dan pemalas akan mengejar Wanita-wanita karir yang kayaraya. Ini adalah gerakan lain dari sisi yang sama, dari penciptaan kaum Alay –yang untungnya saat ini terhenti – entah hingga kapan?, karena ada kasus pelecehan seksual oleh artis SJ.

Ingat!!! Untuk merusak sebuah bangsa hingga titik terendah, cukup dengan merusak nilai-nilai pola pikir budaya para pemudanya.

Kupasan agitasi di atas baru dari dua sisi interaksi saja, belum lagi kalau kita cermati bungkusan-bungkusan alur kejahatan dan kelicikan pola interaksi antar Anak Muda di sinetron tersebut, yang sengaja akan meniadakan Budi Pekerti kita. Mungkin Anda akan mengatakan bahwa saya tidak menonton dari awal Sinetron ini. Pertanyaan saya, apakan kita wajib menonton Sinetron yang penggalan-penggalannya saja sudah berisi nilai-nilai agitasi yang terselubung? Dimana #LembagaSensorFilm kita?

Pihak Asing (pendana) sangat pintar untuk membungkusnya melalui tangan-tangah sineas kita yang tidak menyadari bahaya tersebut, coba Anda cermati Perfilman Indonesia dan Ronald Reagan

(SSM) Foto : Istimewa

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.