Belajar dari “Kejujuran Diri Sendiri”

Bekasi (Pedia) – Berkaca dari Ibu Susi, banyak hal positif yang dapat kita ambil. Menteri yang memiliki Ijazah SMP, dan mengenyam pendidikan hingga 2 SMA ini, punya segudang Prestasi dengan level internasional, juga tidak luput aprisiasi dari aktor kawakan setingkat Leonardo DiCaprio.

Gaya hidupnya santai, tapi penuh tindakan konkrit yang positif, membuat para koruptor gerah melihat, dan merasakan sepak terjangnya. Koruptor di bidang perikanan saat ini, bak ikan terkurung di aquarium, yang dibatasi ruang geraknya.

Gerakan Ibu Susi ini akan membawa kita kembali ke kenyataan, yang tertulis dalam syair lagu Koes Plus yang sangat terkenal “Kolam Susu”. Ibu Susi pun menyatakan dalam suatu wawancara dengan Bapak Don Bosco Selamun di suatu Acara Televisi Swasta, bukan beliau yang membawa mimpi Bangsa Indonesia menuju pada eksistensi “Kolam Susu”, tetapi beliau hanya mengembalikan ke kenyataan yang ada di Nusantara ini, dengan bantuan semua pihak yang bekerjasama, yang beliau sebutkan satu persatu dengan lancar, hal ini menandakan beliau bukan orang yang suka meng-klaim bahwa dirinya sebagai seorang “Superman”, tapi kerjasama yang baik, akan menghasilkan output yang baik pula.

Cerminan kerjasama yang baik, mengingatkan kita dengan pola “Gotong Royong” yang sudah sejak zaman presiden Soekarno di canangkan, tetapi ditinggalkan demi individualisme, dam kepentingan kelompok tertentu. Ibu Susi mengembalikan makna “Gotong Royong” dengan benar, hasilnya pun menjadi terlihat positif, dimana outputnya, kuantitas dan kualitas ikan di perairan Indonesia naik drastis.

Sebagai seorang Menteri Kelautan dan Perikanan, beliau juga menjabat berbagai jabatan bergengsi, antara lain; Direktur Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), CEO pabrik pengolahan ikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product dengan produk unggulan berupa lobster dengan merek Susi Brand, lobster2nya diekspor ke luar negri.

Dari wawancara dengan bapak Don Bosco Selamun dengan Ibu Susi Pudjiastuti, yang menarik adalah pola pikirnya, sederhana tetapi selalu mengedepankan integritas, sehingga jelas bahwa Ibu Susi Pudjiastuti sudah menerapkan Budi Pekerti warisan Leluhur Nusantara.

Siapa bilang kalau kita menerapkan Pola Pikir Warisan Nusantara tidak dapat berhasil, karena banyak yang bilang bisnis itu kotor, sementara Ibu Susi mengedepankan “Kehormatan Harga Diri”

Buktinya ibu Susi telah membuktikan pada kita semua, beliau memiliki perusahaan yang tidak main-main asetnya. Dari sebelum dirinya diangkat menjadi menteri pun, Ibu Susi sudah menjabat sebagai CEO maskapai sewa ber-aset ratusan miliar rupiah PT ASI Pudjiastuti Aviation (Susi Air). dengan 46 pesawat propeler jenis Cessna Grand Caravan (harga Rp 20M/unit), Avanti (harga Rp 80M/unit) dan Porter. Selain itu, beliau juga menjabat, antara lain; sebagai CEO PT ASI Pudjiastuti Flying School, dan CEO PT ASI Geosurvei.

Saat ini, kita suka terbalik-balik dengan mengartikan “Kehormatan”, dimana sekarang ini arti Kehormatan adalah Berpakaian layaknya manusia bersih, tetapi berprilaku memalukan. Sementara Kehormatan yang dicerminkan oleh seorang Ibu Susi adalah, berpenampilan dan bergaya apa adanya tidak ditutup-tutupi, tetapi berprilaku “Jujur kepada Diri Sendiri”, yang menjadikan dirinya berprilaku @StandarTunggal.

Prilakunya sudah membuktikan hasilnya, Ibu Susi menerima segudang penghargaan yang tidak bisa dibeli pakai uang, antara lain:

Peter Benchley Ocean Awards
Leadership Seafood Champion Award
Leaders for a Living Planet Awards
Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, 2005
Ganesha Widyajasa Aditama Award dari ITB, 2011
Award for Innovative Achievements, Extraordinary
Leadership and Significant Contributions to the Economy, by APEC, 2011
Tokoh Wanita Inspiratif Penggerak Pembangunan, by Governor of West Java, 2008
Young Entrepreneur of the Year”, by Ernst and Young Indonesia, 2005
dan masih banyak penghargaan lain
Terus menjaga Integritas, tidak dapat dielakan, seorang yang hanya lulusan SMP bisa mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari Universita Diponegoro, tentunya bukan diterima seperti hadiah ulang tahun, melainkan dirinya harus melalui segudang uji Komptensi dari tim penguji independen. (SSM)

Foto : Istimewa

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.